Bhinneka Tunggal Ika atau Bhinneka Tinggal Kata?

2
294

Oleh : Nirmala Rosa – Anggota Muda UKM-F PSBH

Keadaan mencekam terjadi di Jayapura, Manokwari, Fakfak, dan Timika pada pertengahan Agustus 2019. Berbagai kegiatan dilumpuhkan, di mana-mana terjadi kerusuhan, rakyat turun ke jalan, sebagai bentuk perlawanan secara terang-terangan terhadap tindakan diskriminasi dan dehumanisasi yang mereka terima. Hal ini dilatar belakangi oleh berita dugaan perusakan bendera merah putih di asrama mahasiswa Papua yang terletak di Kota Surabaya tersebar melalui WhatsApp (16/08/19).

Sejumlah organisasi masyarakat (ormas) sipil dan aparat keamanan yang bersikap reaksioner mendatangi asrama mahasiswa Papua tersebut. Juru bicara Aliansi Mahasiswa Papua Surabaya, Dorlince Iyowau, mengatakan bahwa ormas dan aparat yang mendatangi asrama merusak pagar dan mengeluarkan kalimat-kalimat rasis.

Foto diambil dari Beritatagar

Terlepas dari fakta mengenai dugaan perusakan bendera, tindakan represif dan rasis dari aparat TNI/Polri dan ormas sipil yang reaksioner terhadap mahasiswa Papua tentu saja bukanlah tindakan yang dapat dibenarkan. Hal tersebut telah menciderai komitmen Indonesia dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan bangsa yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Kasus tersebut hanyalah contoh kecil dari sekian banyak kasus berbau rasisme yang pernah ada, khususnya terhadap etnis Papua. Banyak dan luasnya kasus rasisme yang terjadi di Indonesia membuat rasisme menjadi suatu bentuk konflik sosial yang terbuka.

Segala bentuk tindakan diskriminasi dan rasisme sendiri telah diatur dalam UU No 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Ketentuan pidana mengenai diskriminasi ras dan etnis diatur pada Pasal 15 UU No 40 Tahun 2008 yang berbunyi:

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”

Pasal 4 huruf a sendiri berbunyi :
“Tindakan diskriminatif ras dan etnis berupa : a.memperlakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras danetnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya;”

Keberadaan dan kehormatan setiap ras dan etnis di negara ini dilindungi dan dijamin oleh konstitusi, tanpa terkecuali. Maka siapapun pelanggarnya perlu diadili agar tindakan seperti ini tidak terulang lagi. Hukum bersifat mengikat. Tidak ada yang menjamin kekebalan hukum baik untuk aparat maupun masyarakat. Hukum berlaku bagi siapapun. Oleh karena itu, barang siapa yang melawan hukum, haruslah diproses secara hukum.

Tapi Papua tidak perlu dikasihani!. Mereka telah dianugerahi kekayaan alam yang membuat mereka tetap hidup di tanah mereka sendiri dan berdiri di atas kaki mereka sendiri. Justru negeri ini yang perlu dikasihani karena nilai-nilai kemanusiaan kian terkikis dan hampir tidak ada lagi. Banyak yang sok pintar, mengatakan sumber daya manusia di Papua kurang terpelajar. Padahal sesungguhnya kita lah yang masih perlu banyak belajar. Belajar memanusiakan manusia, dan belajar untuk tidak merasa lebih tinggi dari segalanya.

SEKARANG RENUNGKAN, BHINNEKA TUNGGAL IKA ATAU BHINNEKA TINGGAL KATA ??!!!

Sumber:

Salman, Ghinan (2019, 19 Agustus). Duduk Perkara Perusakan Bendera hingga Pengepungan Asrama Mahasiswa. Dikutip 1 September 2019 dari Kompas: https://regional.kompas.com/read/2019/08/19/11263391/duduk-perkara-dugaan-perusakan-bendera-hingga-pengepungan-asrama-mahasiswa?page=all

Profil Penulis :

Nirmala Rosa merupakan Anggota Muda UKM-F PSBH dan juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung tahun 2018

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan