gambar diambil dari : kumparan.com

Oleh : Rodrikson Alpian Medlimo

Indonesia merupakan bangsa yang majemuk yang terdiri atas berbagai keanekaragaman budaya. Perbedaan tersebut menjadi kekuatan sekaligus tantangan jika dihubungkan dengan kehidupan manusia yang semakin kompleks akibat pengaruh revolusi industri dan globalisasi. Dalam situasi tersebut, kita dituntut mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi. Perubahan tersebut ternyata berdampak langsung terhadap nilai kearifan lokal yang semakin tergerus dan sangat mungkin menghilang jika tidak dipertahankan eksistensinya. Namun, muncul sebuah pertanyaan bagaimana cara mempertahankan nilai tersebut? Mengingat zaman yang semakin modern dan masyarakat yang semakin tak peduli terhadap nilai kearifan lokal itu sendiri.

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, tidaklah mudah karena dipengaruhi berbagai faktor yang pada hakikatnya saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Faktor tersebut di antaranya, konsep berpikir masyarakat Indonesia yang harus diubah dari tak peduli menjadi acuh, kemudian fleksibilitas nilai kearifan lokal itu sendiri, yang seharusnya mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, serta sinergitas seluruh elemen bangsa dalam mempertahankan nilai tersebut.

gambar diambil dari : detik.com

Kearifan lokal merupakan corak kehidupan suatu masyarakat pada tempat tertentu yang menjadi ciri khas sekaligus yang membedakannya dengan masyarakat lain. Berdasarkan hal tersebut, kita perlu berupaya serta berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan nilai tersebut sehingga nilai itu menjadi khasanah budaya bangsa sekaligus menjadi sinyal bahwasanya bangsa kita tetap mampu mempertahankan keanekaragaman yang terdapat pada bangsa kita. Diperlukan upaya strategis untuk memperkuat kembali nilai kearifan lokal sebagai bentuk apresiasi terhadap nilai budaya lokal yang seharusnya dijadikan manifestasi dalam mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara.       

Kearifan lokal atau “local wisdom” merupakan konsep kehidupan masyarakat yang dimanifestasikan melalui pengetahuan mengenai hal tertentu diikat dengan semangat kebersamaan. Dalam perkembangannya, konsep ini sering dianggap tidak relevan dengan perkembangan zaman dengan asumsi bahwa nilai kearifan lokal tidak bisa mengakomodasi aspek kehidupan yang semakin kompleks. Sejatinya hal tersebut tidaklah benar, mengapa demikian? Alasannya tidak lain bahwa nilai kearifan lokal itulah yang sebenarnya menjadi kunci menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat, karena nilai kearifan lokal bersandar pada filosofi, nilai-nilai, etika, dan perilaku yang melembaga secara tradisional untuk mengelola sumber daya (alam, manusia, dan budaya) secara berkelanjutan.

Pada perkembangannya, nilai kearifan lokal memerlukan “transformasi” untuk memperkokoh kedudukannya sebagai kebenaran yang mentradisi atau ajeg dalam mengatur tatanan kehidupan sosial masyarakat sebagai wadah mencapai kemajuan komunitas baik dalam penciptaan kedamaian maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perwujudan dalam melakukan transformasi dapat dimulai dengan mengintegrasikan nilai budaya lokal dengan nilai modernitas. Sebagai contoh, pemakaian mesin traktor dalam membajak sawah menggantikan peran dari tenaga kerbau dalam cara pertanian tradisional. Jika masyarakat menginisiasi transformasi dalam cara pertanian tradisional, maka diharapkan efektivitas nilai kearifan lokal sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat direalisasikan.

Sistem pertanian tradisional merupakan aplikasi dari nilai kearifan lokal, dalam perkembangannya sistem tersebut memerlukan proses transformasi. Sebagaimana contoh yang sudah disebutkan, maka muncul suatu inovasi baru yang akan menunjang keberlangsungan pola bertani masyarakat Indonesia. Penyesuaian terhadap perubahan merupakan jawaban atas pertanyaan apakah nilai kearifan lokal masih relevan dengan perkembangan zaman atau tidak.

Selanjutnya, jika berbicara tentang kearifan lokal maka ada hubungan secara langsung dengan nilai Pancasila. Nilai-nilai pancasila berkedudukan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal tersebut menjadi faktor pendukung eksistensi kearifan lokal, dimana kearifan lokal dapat juga menjadi sarana pengikat dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian tercipta harmonisasi dalam menghadirkan kehidupan yang aman, tentram dan damai seperti yang diharapkan masyarakat.

Apabila dikaji lebih lanjut, ternyata nilai pancasila merupakan salah satu upaya untuk tetap mempertahankan kearifan lokal, mengapa? Tidak lain karena nilai pancasila sebagai dasar negara Indonesia, yang digali melalui filosofi kehidupan masyarakatnya akan menjadi penopang bagi nilai kearifan lokal. Pancasila menjadi pagar pelindung bagi nilai kearifan lokal agar tidak tergerus oleh revolusi industri dan arus globalisasi yang semakin memudarkan budaya lokal. Dengan demikian, jelas bahwasanya kedudukan Pancasila sangat esensial bagi nilai kearifan lokal, sehingga “transformasi” nilai kearifan lokal haruslah mengacu pada nilai Pancasila karena secara konseptual nilai-nilai pancasila selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Tak bisa dipungkiri bahwa peradaban zaman yang terus berevolusi menjadi penghambat dalam pengintegrasian nilai kearifan lokal dan nilai Pancasila. Meskipun demikian, kita dapat mengatasi hal tersebut dengan mengubah pola pikir, jangan menganggap kearifan lokal sebagai bentuk ketertinggalan budaya (culture lag), tetapi memandang bahwa dengan adanya kearifan lokal maka ciri khas masyarakat kita akan semakin terlihat. Jika hal ini dapat diwujudkan, maka dengan sendirinya eksistensi kearifan lokal itu akan terjaga bahkan bisa dikembangkan melalui transformasi nilai kearifan lokal itu sendiri. Oleh sebab itu, pembangunan potensi kearifan lokal harus dimulai sedini mungkin, prosesnya dapat dilakukan dengan meletakkan nilai-nilai Pancasila sebagai basis kearifan lokal.

Penguatan nilai Pancasila sangat diperlukan dalam mempertahankan eksistensi kearifan lokal, artinya Pancasila menjadi faktor pendukung terciptanya transformasi. Menggali dan mengembangkan nilai kearifan lokal menjadi solusi agar nilai tersebut tidak pudar ataupun hilang. Selain penguatan nilai Pancasila, sinergitas seluruh lapisan masyarakat dalam mempertahankan kearifan lokal juga sangat penting untuk diwujudkan. Sikap peduli terhadap budaya lokal perlu ditumbuhkan. Dengan adanya kearifan lokal maka jati diri bangsa kita sebagai bangsa yang heterogen tetap terjaga dan hal tersebut menjadi modal utama untuk penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam tataran sosial budaya bangsa Indonesia.

Sebagai penutup, penulis mengajak seluruh masyarakat Indonesia khususnya para mahasiswa, mari kita pertahankan eksistensi kearifan lokal bangsa kita, guna menyongsong masa depan yang lebih baik, zaman boleh berubah tetapi jiwa dan kepribadian bangsa kita jangan sampai luntur bahkan menghilang. Filosofinya seperti ini: “boleh mengikuti arus, tetapi tidak boleh hanyut terbawa arus”. Dengan demikian kearifan lokal perlu dioptimalkan sebagai pendukung pembangunan bangsa yang bertumpu pada kekuatan, identitas dan keunikan dalam konteks pembangunan nasional, serta instrumen untuk mampu bersaing dengan negara lain dalam berbagai aspek kehidupan.

 

Sumber dan Referensi :

  • Ayatrohaedi. (1986). Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Pelajar.
  • Giddens, Anthony. (2005). Konsekuensi-konsekuensi Modernitas. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
  • Notonagoro, Wisnu HKP. (2011). Membangun Kembali Peradaban Negara Bangsa Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Jakarta: Percetakan Sejahtera Bersama.
  • Soedarsono, Soemarno. (2009). Karakter Mengantar Bangsa, dari Gelap Menuju Terang. Jakarta: Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.
  • Wreksosuhardjo, Sunarjo. (2000). Ilmu Pancasila Yuridis Kenegaraan dan Ilmu Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Andi Yogyakarta

Profil Penulis :

Rodrikson Alpian Medlimo, Anggota Tetap UKM-F PSBH yang juga merupakan Mahasiswa Semester III Fakultas Hukum, Universitas Lampung.

Tinggalkan Balasan