Segudang Tugas Saat Pandemi Memakan Korban, Bagaimana Menghadapinya?

1
181
gambar diambil dari ayobandung.com

Akibat pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia, banyak menimbulkan dampak terhadap berbagai sektor, tidak terkecuali sektor Pendidikan, banyak sekolah dan perguruan tinggi ditutup. Kebijakan ini tak lain adalah untuk mencegah penyebaran infeksi COVID-19.

Sehubungan dengan himbauan WHO bahwa semua elemen masyarakat perlu berpartisipasi dalam mencegah dan meminimalkan dampak dari wabah COVID-19, sehingga pembelajaran yang semula tatap muka dirubah menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dasar Hukum :

1. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

dan

2. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Satuan Pendidikan Aman Bencana.

Pembelajaran jarak jauh yang semula diharapkan menjadi pembelajaran yang menyenangkan nyatanya menimbulkan berbagai keluhan.

Lantas apa saja hal yang menjadi keluhan mahasiswa saat menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ)?

Pertama, tentu terkait waktu pengumpulan tugas yang diberikan, para mahasiswa merasa penugasan yang diberikan dosen terlalu berat dengan waktu pengumpulan yang singkat sehingga sangat menyulitkan mereka.

Kedua, terkait kuota dan jaringan, banyak mahasiswa yang mengeluhkan masalah kuota dan jaringan internet yang tidak stabil saat pembelajaran online, terutama untuk mahasiswa yang tinggal di daerah yang sulit untuk mengakses sinyal.

gambar diambil dari aksaraintimes.id

Sudah banyak berita beredar mahasiswa mencari sinyal dengan berjalan 10 km untuk mencari daerah yang memiliki sinyal, pergi ke bukit, dan sebagainya, itu semua menjadikan pembelajaran online tidak efektif.

Ketiga, banyak diantara mahasiswa yang tidak memiliki handphone atau laptop, sebagian mahasiswa yang berasal dari kalangan keluarga tidak mampu secara ekonomi merasa kesulitan untuk membeli handphone atau laptop untuk pembelajaran online.

Baru-baru ini terdapat kasus seorang siswi SMA di Gowa, Sulawesi Selatan, tewas diduga bunuh diri dengan menenggak cairan racun rumput.

gambar diambil dari kebumenupdate.id

Dari hasil penyelidikan polisi, korban MI (16) sempat merekam aksinya dengan ponsel berdurasi 32 detik, ia ditemukan terbujur kaku dibawah tempat tidurnya pada Sabtu, (17/10/2020) 08.30 Wita, oleh sang adik, IR (8)

Diduga korban bunuh diri akibat depresi dengan banyaknya tugas-tugas daring dari sekolahnya, dikarnakan sukitnya akses internet di kediamannya sehingga tugas-tugas daringnya menumpuk

“Kejadian bunuh diri siswa ini seharusnya menjadi alarm yang sangat keras kepada pemerintah bahwa masalah penugasan-penugasan ini adalah sesuatu yang sangat serius memberikan dampak depresi kepada siswa “, Tegas Ketua Umum Jaringan Sekolah Digital Indonesia, Muhammad Ramli

Lalu bagaimana strategi menghadapi segudang tugas pembelajaran daring?

Setidaknya ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi tugas yang menumpuk saat pembelajaran daring

gambar diambil dari itb.ac.id

1. Atur manajemen waktu yang baik
Kerjakan tugas dari dosen dengan serius, bagi orang-orang yang tidak terbiasa belajar mandiri, biasanya mereka akan mengerjakan tugas-tugas di akhir tenggat waktu yang ditetapkan. Oleh sebab itu, rubah kebiasaan ini, kerjakan tugas yang diberikan dengan sesegera mungkin, sehingga tugas tidak menjadi menumpuk

2. Fokus saat pembelajaran
Kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa saat pembelajaran daring adalah tidak fokus, banyak sekali hal yang mengganggu pembelajaran. Godaan untuk menonton video, akses media sosial seringkali dilakukan saat pembelajaran berlangsung, penting bagi mahasiswa untuk fokus saat pembelajaran agar dapat memahami materi yang diberikan dosen

3. Jangan malu untuk bertanya
Kamu dapat berkomunikasi dengan orang sekelilingmu agar dapat membantu proses belajarmu menjadi lebih mudah, orang disekelilingmu antara lain Orangtua, Teman, Guru, dan Website sumber belajar

 

Referensi :

https://www.republika.id/posts/8502/

https://regional.kompas.com/read/2020/10/18/05450041/-korban-bunuh-diri-karena-depresi-banyaknya-tugas-online-dan-sulitnya-akses?page=all

 

Profil Penulis :

Wanda Irawan merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung semester 1, yang saat ini aktif menjadi Anggota Muda UKMF-PSBH FH UNILA 2020.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan