Hukum dalam Materialisme, Dialektika, dan Logika

0
64

Pada permulaan tulisan ini, pertama-tama dan memang tahap paling utama adalah mendefinisikan sesuatu. Definisi tentang sesuatu itulah agar menjadikan suatu kepastian, agar menentukan pula batasan suatu perkataan, hukum, dan paham. Kalau tidak ada pembatas atau batasan tentang sesuatu yang ingin dibicarakan, maka sesuatu pembicaraan tersebut dapat melenceng, melebar,dan tak tentu arahnya. Dalam logika diterangkan bahwa ya itu sama dengan ya, Non-ya sama dengan non-ya (A sama dengan A, Non-A sama dengan Non-a pula). Apabila ada dua keterangan yang bertentangan, maka ya sama dengan bukan Non-ya (A sama dengan bukan Non-A).

Kita ibaratkan missal melihat sebuah kotak yang berwarna putih dari arah depan, maka kita simpulkan kotak berwarna putih. Lalu kita melihat kotak tahadi dari arah belakang, berwarna hitam, maka kita simpulkan pula kotak berwarna hitam. Kita dapati ada dua kesimpulan yang bertentangan. Kotak itu berwarna putih dan kotak itu berwarna hitam. Tidak bisa benar keduanya, itulah limit dari logika. Pada dasarnya logika akan takluk kepada tingkat yang lebih atas, yaitu Dialektika apabila sudah berkenaan dengan sang waktu, pertentangan, gerakan, dan permasalahan. Kita dapat menyimpulkan bahwa kotak itu dipandang dari satu sudut bisa berwarna putih dan berwarna hitam pula. Seketika barang itu bisa menjadi kesimpulan A dan Non-A secara bersamaan. Sama saja seperti perubahan akan Quantity become Quality dan Negation der Negation. Bilamana hanya ada sepuluh petani dan buruh yang memperjuangkan hak-hak nya sebagai bentuk dari berdemokrasi, mungkin tidak akan mengubah apapun. Tetapi bila ada seribu, sepuluh ribu seratus ribu dan seterusnya, maka akan terjadi perubahan.

Karena menurut Dialektika tahadi, kenaikan jumlah buruh yang memperjuangkan hak-haknya, akan mengubah pula sifat tekanan terhadap penguasa. Sekarang kita berangkat kembali dari hal yang paling kecil di dunia, yaitu atom. Proton sebagai penarik (Tesis), Elektron sebagai penolak (Antitesis), penarik dan penolak kita dapatkan sebagai suatu keseimbangan, dan di dalam atom tahadi lah kita dapatkan suatu harmonisasi. Itulah hukum pembatal kebatalan. Kita berlanjut menuju Matterialisme. Biasa kita temukan bahwa “Materialisme” dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang beralaskan hanya mencari kesenangan hidup berlebihan-lebihan saja dalam urusan duniawi. Itu yang biasanya dikatakan atau diterjemahkan oleh musuh-musuh kaum proletar. Sedangkan Idealisme merupakan ilmu pengetahuan yang dijunjung tinggi karena dianggap paling suci.

Kita akan definisikan kembali; Bahwa menurut Fredrich Engels, ia mengelompokan para ahli filsafat menjadi dua kelompok besar yaitu dengan berdasarkan Matter dan Idea. Apabila mengutamakan berpikir lebih dahulu, maka itulah idealisme. Sebaliknya apabila mengutamakan benda lalu berpikir, maka itulah materialsme. Kita tidak akan membahas idealisme lebih jauh. Lalu akan timbul pertanyaan tentang apa itu Matter? Sederhanya adalah yang dapat dicapai oleh panca indera kita. Dapat dilihat, dapat dicium, dapat dirasa, dapat didengar, dapat diraba. Lalu sampai ke tahap dimana kita mengaitkannya dengan Hukum. Hukum itu merupakan kesepakatan suatu aturan dari sekumpulan masyarakat untuk mengatur sumber daya yang ada untuk mencapai kesejahteraan.

Hal terpenting dari hukum adalah mencapai kesejahteraan, apabila tidak tercapainya kesejahteraan, maka gagal-lah hukum itu. Oleh sebabnya persoalan tadi harus naik ketingkat selanjutnya, Dialektika. Hukum akan menemui banyak permasalahan selama ia berada. Jadi apabila dalam pelaksanaan dari Hukum tahadi menemui masalah, maka haruslah perubahan Quantity become Quality dirasa perlu. Semakin banyak suara-suara datang untuk menyuarakan kegelisahan yang ada, maka akan menimbulkan efek yang besar pula. Dan seperti seorang anak yang melambungkan sebuah bola ke udara, semakin besar kuatnya lambungan ke udara, maka semakin tinggi pula bola itu melambung. Karena dalam kehidupan kita bernegara sekarang ini, itu yang dikatakan oleh kaum Materialsme Dialektika. Apabila penegakan hukum seimbang dengan apa yang telah menjadi hukum, maka terjadi harmonisasi hukum. Dan sebaliknya, apabila penegakan hukum tidak seimbang dengan apa yang telah menjadi hukum, maka terjadilah disharmonisasi hukum.

Dalam hukum pula jangan sampai idea, atau paham dijadikan sebagai bukti. Karenanya hukum haruslah mempunyai bentuk, Matter. Bilamana Idea dijadikan bukti, maka masuk kedalam Mystification, atau Logika Mistik., kelompok ahli gaib termasuk di dalam sini. Oleh sebabnya itulah Hukum harus timbul dari pemikiran filosofi dengan cara-cara logis agar mencapai tujuan kesejahteraan tahadi. Tan Malaka melihat bahwa kemajuan kehidupan peradaban manusia melalui tiga tahap; “Logika Mistik” lalu “Filsafat” menuju “Ilmu Pengetahuan”. Apabila bangsa Indonesia masih terperangkap dalam Logika Mistik, tidak akan mungkin menjadi bangsa yang merdeka dan maju. Begitu pula dengan Hukum dan penegakkan Hukum di bangsa ini.

Profil Penulis :
Ahmad Akasyah, merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung semester 5, yang saat ini menjadi Anggota Muda UKM-F PSBH FH UNILA 2020.

Tinggalkan Balasan