Tuntutan Terdakwa NOVEL BASWEDAN! Fakta atau Hanyalah Rekayasa semata.

0
85

Oleh: Denis Anelka, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung Semester IV, Pengurus Bidang Kajian 2020/2021

Indonesia adalah Negara Hukum

Penggunaan istilah negara hukum mempunyai perbedaan antara sesudah dilakukan amandemen dan sebelum dilakukan amandemen. Sebelum amandemen UUD 1945, yang berbunyi bahwa ” Indonesia adalah negara yang berdasar atas negara hukum”. Sedangkan setelah dilakukannya amandemen UUD 1945 yaitu “Negara Indonesia adalah negara hukum.” istilah negara tersebut dimuat dalam UUD 1945 pasal 1 ayat (3). Meskipun ada perbedaan UUD 1945 sebelum dan sesudah amandemen pada hakikatnya keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu menjadikan Negara Indonesia sebagai negara hukum. Indonesia sebagai negara hukum, memliki karakteristik mandiri yang berarti kemandirian tersebut terlihat dari penerapan konsep atau pola negara hukum yang dianutnya.NKRI sebagai negara hukum yang berdasarkan pada pancasila, pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu yaitu bertujuan untuk mewujudkan tata kehidupan negara kita sebuah negara yang aman, tentram, aman sejahtera, dan tertib dimana kedudukan hukum setiap warga negaranya dijamin sehingga bisa tercapainya sebuah keserasian, keseimbangan dan keselarasan antara kepentingan perorangan maupun kepentingan kelompok (masyarkat).Negara berdasarkan atas hukum ditandai dengan beberapa asas diantaranya adalah bahwa semua perbuatan atau tindakan seseorang baik individu maupun kelompok, rakyat maupun pemerintah harus didasarkan pada ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelum perbuatan atau tindakan itu dilakukan atau didasarkan pada peraturan yang berlaku. Negara berdasarkan atas hukum harus didasarkan hukum yang baik dan adil tanpa membeda-bedakan. Hukum yang baik adalah hukum yang demokratis, yaitu didasarkan pada kehendak rakyat sesuai dengan kesadaran hukum rakyat. Sedangkan yang dimaksud dengan hukum yang adil adalah hukum yang memenuhi maksud dan tujuan hukum yaitu keadilan.Oleh karena itu suatu negara yang menyatakan bahwa negaranya merupakan negara hukum. Negara hukum menurut UUD 1945 adalah negara yang berdasarkan pada kedaulatan hukum. Negara itu sendiri merupakan subjek hukum, dalam arti rechstaat (Indonesia ialah negara yang berdasar atas hukum).

Gambar diambil dari ilmusosial.id

Jangan ragukan hukum di Indonesia, sebab negara Indonesia merupakan negara yang berlandaskan hukum yang segala tingkah laku serta perbuatan masyarakatnya akan di pantau dan di adili sesuai dengan aturan yang berlaku jika masyarakat melanggar aturan  yang berlaku. Lalu bagaimana menurut anda jika hukum di Indonesia hanya melihat subjek hukum yang lemah dianggap salah sedangkan subjek hukum yang kuat dianggap benar dalam segala aspek aturan. Apakah hal ini adil, atau hanya sekedar rekayasa semata sebagai jalan menutupi kesalahan aparat pengak hukum yang ada di Indonesia. Mengkritisi hal ini sangat perlu, dalam hal menilai sejauh mana penegakkan hukum dan keadilan hukum yang ada di Indonesia. Selayaknya para aparat penegak hukum dan instansi terkait transparan dan tegas dalam mengadili suatu perkara, agar para pelaku merasa jera serta pihak korban merasa adil terhadap putusan pengadilan. Perlunya jalan mulus dalam penegakkan hukum, harus di imbangi dengan aparat penegak hukum yang tidak tebang pilih serta berlandaskan asas keadilan yang seadil-adilnya.

Adil atau tidak tuntutan Terpidana kasus Novel Baswedan?

Jaksa penuntut umum Fredik Adhar menjatuhkan tuntutan satu tahun penjara bagi dua terdakwa dalam kasus penyiraman air keras terhadap korban Novel Baswedan. Kedua pelaku tersebut bernama Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette yang ternyata merupakan anggota Polisi aktif dari kesatuan Brimob, terbukti melakukan penganiayaan berat dan terencana terhadap Novel Baswedan.Jaksa Penuntut Umum Menggunakan pasal 352 ayat (2) tentang penganiayaan yang menyebabkan luka berat dan pasal 55 ayat (1)

Mengapa demikian? Alasan jaksa penuntut umum menjatuhkan tuntutannya dikarenakan Dalam pertimbangan surat tuntutan yang dibacakan jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2020), jaksa menyebut kedua terdakwa tidak sengaja menyiramkan air keras ke bagian wajah Novel. Menurut jaksa, kedua terdakwa hanya ingin menyiramkan cairan keras ke badan Novel.Ketika dimintai keterangan seusai persidangan, jaksa mengatakan alasan selanjutnya memberikan tuntutan ringan adalah terdakwa mengakui perbuatannya. Selain itu, kedua terdakwa telah meminta maaf kepada Novel dan keluarga.

Gambar diambil dari beritatagar.id

Menanggapi tuntutan di atas ada baiknya kita sebagai masyarakat awam berhak untuk mengomentari dan menyampaikan argumentasi terkait tuntutan jaksa tersebut. Karena kita melihat bahwa jaksa itu misalkan dalam fakta persidangan tidak terbukti tuntutannya pasti tidak terbukti, jika di fakta persidangan terbukti tuntutannya pastiterbukti. Maka tinggi atau rendahnya tuntutan harus mengacu pada fakta persidangan.

Menurut saya bahwa hakim akan memberikan putusanberdasarkan fakta yang ada. Hakim akan memutus suatu perkara atas dasar fakta-fakta yuridis yang ditemukannya dalam persidangan, dan tentu saja dengan menyandingkannya dengan rasa keadilan masyarakat, putusan hakim tak akan bergantung pada tuntutan yang dilayangkan jaksa penuntut umum, putusan hakim akan berkiblat pada rasa keadilan itu sendiri.

Di surat dakwaan disebutkan Rahmat Kadir dan Ronny Bugis dijerat dengan Pasal 355 ayat 1 KUHP juncto Pasal 353 ayat 2 KUHP juncto Pasal 351 ayat 2 KUHP. Oleh karena perbuatan dilakukan bersama-sama maka jaksa menambahkan pasal penyertaan yaitu Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Mari terlebih dahulu membedah pasal demi pasal yang disangkakan pada kedua terdakwa.

Pasal 355 ayat 1 KUHP

Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pasal 353 ayat 1 dan 2 KUHP

  1. Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
  2. Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 351 ayat 1 dan 2 KUHP

  1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah,
  2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Dari rangkaian pasal-pasal itu bila dilihat maka ancaman hukuman paling tinggi adalah 12 tahun penjara yaitu tercantum pada Pasal 355 ayat 1 KUHP. Pasal itu merupakan dakwaan primer yang disampaikan jaksa.

Sedangkan dakwaan subsider yang disampaikan jaksa yaitu Pasal 353 ayat 2 KUHP yang ancaman hukumannya masih cukup tinggi yaitu 7 tahun penjara. Namun jaksa berpendapat dalam surat tuntutan bila perbuatan 2 penyerang Novel itu tidak terbukti melanggar Pasal 355 ayat 1 KUHP yang mencantumkan ancaman hukuman tertinggi.

Apa alasannya?

Kadir dan Ronny Bugis sedari awal tidak diniatkan untuk melakukan penganiayaan berat pada Novel. Sementara dalam fakta persidangan disebutkan bila penyerang Novel itu sudah menyiapkan cairan keras yaitu asam sulfat untuk melukai Novel.

Jaksa menyebut dakwaan primer yang didakwakan dalam kasus ini yaitu Pasal 355 ayat 1 KUHP tidak terbukti. Oleh karena itu, jaksa hanya menuntut kedua terdakwa dengan dakwaan subsider yaitu Pasal 353 ayat 2 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Sementara itu untuk unsur meringankan dan memberatkan untuk kedua terdakwa yaitu sebagai berikut:

Ronny Bugis

Hal-hal yang memberatkan:
– Perbuatan terdakwa telah mencederai kehormatan institusi Polri.

Hal-hal yang meringankan:
– Terdakwa belum pernah dihukum,
– Terdakwa mengakui perbuatannya di depan persidangan,
– Terdakwa kooperatif dalam persidangan, dan
– Terdakwa telah mengabdi sebagai anggota Polri selama 10 tahun.

Rahmat Kadir:

Hal-hal yang memberatkan:
– Perbuatan terdakwa telah mencederai kehormatan institusi Polri.

Hal-hal yang meringankan:
– Terdakwa belum pernah dihukum,
– Terdakwa mengakui perbuatannya di depan persidangan,
– Terdakwa kooperatif dalam persidangan, dan
– Terdakwa telah mengabdi sebagai anggota Polri selama 10 tahun.

Selepas persidangan jaksa kembali memberikan penjelasan mengenai besaran tuntutan pada kedua terdakwa yang hanya 1 tahun penjara. Jaksa menyebut kedua terdakwa telah meminta maaf kepada Novel dan keluarga.

Dia mengatakan dakwaan primer tidak terbukti karena Rahmat Kadir tidak memiliki niat dari awal untuk melukai Novel. Jaksa menyebut motif keduanya melakukan teror air keras hanya untuk memberikan pelajaran ke Novel yang dinilai telah melupakan institusi Polri.

Sebenarnya fakta atau rekayasa kasus Novel Baswedan ini?

Gambar diambil dari detik.com

Salah satu yang menyebut penyerangan terhadap Novel rekayasa adalah Dewi Ambarwati alias Dewi Tanjung. Bahkan, politikus PDIP ini melaporkan Novel Baswedan ke sentra pelayanan kepolisian terpadu Polda Metro Jaya atas dugaan rekayasa penyerangan air keras tersebut. Dewi melaporkan Novel Baswedan dengan tuduhan telah menyebarkan berita bohong.Dewi menuduh, Novel telah merekayasa peristiwa penyiraman air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam.

Dewi menilai, reaksi Novel saat disiram air keras tak seperti korban yang terkena siraman air keras.

“Ada beberapa hal janggal dari semua hal yang dialami, dari rekaman CCTV, bentuk luka, perban, dan kepala yang diperban. Tapi, tiba-tiba malah mata yang buta,” kata Dewi di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu 6 November 2019.

Namun di satu sisi Akibat serangan air keras, Novel memang mengalami cedera di mata sebelah kirinya. Fakta ini dikutip dari situs Liputan6.com dengan judul artikel “Polisi: Novel Baswedan Diperiksa Mengenai Apakah Ada Ancaman“.Novel memang sudah berada di Singapura untuk menjalani perawatan. Menurut laporan medis Novel Baswedan yang diterima Tempo, ia mulai dirawat di Singapura, tepatnya di klinik Eyeand Retina Surgeons, pada 12 April 2017. Sebelumnya, Novel dirawat di Jakarta Eye Center karena cedera kimia asam sulfat pada 11 April 2017, sekitar pukul 5 pagi.Berdasarkan laporan bertanggal 26 Mei 2017 itu, terdapat luka bakar ringan dan sedang pada wajah, hidung, dan kelopak mata Novel yang disebabkan oleh paparan air keras berjenis asam sulfat. Sementara cedera parah, menurut laporan itu, dialami oleh kedua mata Novel. Bahkan, mata kirinya mengalami kerusakan lebih dari 90 persen.

Menurut laporan itu pula, setelah dirawat di klinik Eyeand Retina Surgeons, Novel dirawat di Singapore General Hospital oleh unit luka bakar, unit bedah plastik, dan unit THT. Dia juga dirawat oleh dokter dari Singapore National Eye Centre (SNEC).

Hal ini menjadi perdebatan, apakah fakta atau hanya rekayasa luka di area wajah dikarenakan penyiraman air keras pada Novel Baswedan. Semua itu akan kita buktikan pada fakta persidangan.

Direktur Eksekutif LokataruFoundation Haris Azhar menilai bahwa rendahnya tuntutan terhadap terdakwa kasus penyiraman air keras ke penyidik KPK Novel Baswedan memang aneh. Namun, Haris Azhar menilai wajar dengan rendahnya tuntutan jaksa. Haris menjelaskan, memang aneh jika tuntutan rendah  lantaran efek kejahatan tersebut sangat besar. Sebab, teror dan kejahatan itu mengakibatkan terganggunya pekerjaan seorang penegak hukum seperti Novel. Di sisi lain, ia mewajari rendahnya tuntutan tersebut karena sejak awal kasus itu kental nuansa rekayasa.Bahkan, Haris menyatakan bahwa berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan, bukan mereka yang berciri sebagai pelaku kejahatan terhadap Novel.

Keduanya dipasang untuk mengakhiri polemik kasus Novel yang tidak kunjung jelas. Nunasa rekayasa sangat kental, ucap dia.

Haris Azhar menyatakan, beberapa keanehan terlihat dari bukti yang digunakan sebagai dalil. Menurut dia, jaksa mengacuhkan bukti forensik dan kamera CCTV.

Sejak awal penanganan, polisi klaim sudah mendapati hasil CCTV sekitar wilayah tempat tinggal. Ini hanya beberapa kejanggalan saja, kata dia.

Diberitakan sebelumnya, dua terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis, dituntut hukuman satu tahun penjara.

Rahmat dianggap terbukti melakukan penganiayaan dengan perencanaan dan mengakibatkan luka berat pada Novel karena menggunakan cairan asam sulfat atau H2SO4 untuk menyiram penyidik senior KPK itu.

Sedangkan, Rony dianggap terlibat dalam penganiayaan karena ia membantu Rahmat dalam melakukan aksinya.

Alhasil bahwa pengadilan sudah memutuskan terkait kasus Novel Baswedan ini, dengan jelas yang sudah di putuskan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Menghargai keputusan pengadilan adalah hal yang harus kita lakukan, sebab putusan hakim atau pengadilan merupakan putusan akhir dan mutlak yang sudah harus kita sadari bersama-sama. IUS CURIA NOVIT (seorang hakim dianggap tahu akan hukumnya).

Kesimpulan

Pada dasarnya, keadilan, kemakmuran, kesejahteraan rakyat bisa kita lihat bagaimana sistem atau dasar negara berjalan secara beriringan menapaki langkah demi langkah dengan tegas dan berwibawa. Manakala penegakkan hukum di suatu negara tidak bisa diciptakan maka kewibawaan negara tersebut pun runtuh. Jangan cuman mengkritik dan mengkritisi sejarah sistem hukum di negara kita, melainkan tanamkan sejak dini apa itu arti cinta terhadap negara, bangsa dan agama. Jadilah seseorang yang pandai berbicara cerdas dalam bertindak, pandai melakukan siap bertanggung jawab.

Lex nemini operatur iniquum, neminini facit injuriam ( Hukum tidak memberikan ketidakadilan kepada siapapun dan tidak melakukan kesalahan kepada siapapun). Berfikir dengan akal sehat, percaya bahwa segala yang terjadi di persidangan selalu di pantau oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber:

https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/alfinafajrin/59b80b71941c202012739722/indonesia-sebagai-negara-hukum

https://www.google.com/amp/s/www.pikiran-rakyat.com/nasional/amp/pr-01565596/pasca-viral-tagar-gaksengaja-novel-baswedan-justru-minta-pelaku-penyiraman-air-keras-dibebaskan

https://m.detik.com/news/berita/d-5049859/alasan-jaksa-tuntut-penyerang-novel-1-tahun-bui-tak-sengaja-lukai-matahttps://

www.google.com/amp/s/m.liputan6.com/amp/4279362/komisioner-kpk-nawawi-harap-putusan-hakim-di-kasus-novel-baswedan-adil

https://nasional.kompas.com/read/2020/06/12/12163041/nuansa-rekayasa-perkara-novel-baswedan-haris-azhar-nilai-wajar-tuntutan?page=2

https://m.detik.com/news/berita/d-5050535/bedah-pasal-yang-dipakai-jaksa-tuntut-penyerang-novel-hanya-1-tahun-bui/3

https://www.google.com/amp/s/www.vivanews.com/amp/indepth/roundup/52423-geregetan-tuntutan-jaksa-kasus-novel-baswedan

https://m.jabarnews.com/read/86725/tuntutan-jaksa-dalam-kasus-novel-baswedan-dipertanyakan/2

https://www.satuhukum.com/2019/08/adagium-hukum.html?m=1

https://www.goodreads.com/quotes/tag/keadilan

Profil Penulis:

Denis Anelka merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung Semester IV, sekarang dia menjadi anggota kepengurusan bidang Kajian 2020/2021.

Tinggalkan Balasan