Belok kemana, sein kemana?

0
94

Oleh: Susi Susanti, Mahasiswi Fakultas Hukum, Pengurus Bidang Kajian 2020/2021

Setiap dari kita pasti sering melihat dijalanan orang yang memasang lampu sein kiri, namun berbelok ke kanan, atau malah sebaliknya. Hal ini memang tidak mengherankan karena sangat sering terjadi, khususnya dilakukan oleh pengguna sepeda motor. Kebanyakan kasus yang terjadi karena tidak memahami arti dari lampu sein itu sebenarnya apa. Terlebih hal ini sering dikaitkan dengan ibu-ibu yang membawa motor yang dinamai “The Power Of Emak-Emak” dijalanan. Seolah yang menjadi raja jalanan adalah emak-emak.

Pada umumnya setiap orang harus menyalakan lampu sein sebagai penunjuk arah dalam berkendara, dan ternyata jika kelalaian terhadap lampu sein ini dapat menimbulkan seseorang terjerat hukuman dan denda.

Gambar diambil dari www.liputan6.com

Apa kompetensi seseorang dapat berkendara?

Menurut Pasal 1 angka 20 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”), sepeda motor termasuk jenis kendaraan bermotor. Sepeda Motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah.

Kendaraan Bermotor adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain kendaraan yang berjalan di atas rel. Setiap orang (pengemudi) yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan, wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (“SIM”) sesuai dengn jenis kendaraan bermotor yang dikemudikan.  Untuk pengemudi sepeda motor wajib memiliki SIM C.

Jika seseorang sudah memiliki SIM, berarti ia telah lulus:

  1. ujian teori;
  2. ujian praktik; dan/atau
  3. ujian keterampilan melalui simulator.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa seseorang yang telah memiliki SIM (atau dalam hal ini pengemudi sepeda motor), berarti telah memiliki kompetensi mengemudi (mengetahui teori aturan berlalu-lintas) karena telah lulus ujian.

 

Gambar diambil dari Boombastis.com

Dasar Hukum Kendaraan jika akan Berbelok Arah

Pengemudi kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan, serta memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan.

Meskipun tidak berbelok, pengemudi yang akan berpindah jalur atau bergerak ke samping, wajib pula mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan dan memberikan isyarat.

Pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas.

Gambar diambil dari radarsurabaya.jawapos.com

Jadi berdasarkan hal tersebut, kendaraan yang berbelok, berpindah jalur, atau bergerak ke samping harus memperhatikan situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan, serta memberikan isyarat, salah satunya dengan menggunakan lampu penunjuk arah. Lampu sein yang disebutkan, dalam UU LLAJ disebut dengan lampu penunjuk arah.

Dalam Pasal 112 ayat (1) dan (2) UU LLAJ memang tidak disebutkan secara eksplisit bahwa dalam memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah pada saat pengemudi akan berbelok atau berbalik arah, pindah jalur atau bergerak ke samping harus sesuai dengan arah kemana si pengemudi akan bergerak.

Kemudian jika kita merujuk pada Pasal 106 ayat (1) UU LLAJ, yang menyebutkan:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.”

Tidak ada penjelasan mengenai arti wajar dalam UU LLAJ. Namun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, wajar adalah:

  1. biasa sebagaimana adanya tanpa tambahan apa pun;
  2. menurut keadaan yang ada; sebagaimana mestinya.

Jika dikaitkan dengan kewajiban mengemudikan kendaraan dengan wajar, dapat kita disimpulkan bahwa pengemudi yang akan berbelok harus menggunakan lampu petunjuk sesuai dengan arah kemana akan berbelok atau bergerak. Jika berbelok atau bergerak ke kanan, maka lampu penunjuk arah yang menyala harus lampu sebelah kanan juga, karena itu yang sewajarnya dilakukan oleh pengemudi.

Selain itu juga perlu diperhatikan, bagi pengemudi akan berbelok atau berbalik arah, berpindah jalur atau bergerak ke samping maka harus mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan.

 

Kapan lampu sein menyala saat berkendara?

Lampu sein harus digunakan pada waktu yang tepat demi mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas. Pengendara setidaknya sudah menyalakan lampu sein 3 detik sebelum melakukan perpindahan lajur atau berbelok.

Hal ini berlaku baik bagi pengendara mobil atau pengendara sepeda motor di jalanan. Bila menghitung jarak, lampu sein harus menyala 10-30 meter sebelum berpindah lajur. Ada tiga aspek di balik perhitungan itu, di mana harus dipahami pengendara sebelum mengubah haluan.

  • Pertama, pengendara lain bisa mengantisipasi terhadap hal tak terduga yang berada di sekitar kita.
  • Kedua, ada waktu untuk melihat keadaan sekitar melalui spion sebelum kendaraan kita berubah haluan.
  • Ketiga, ada jarak aman guna antisipasi apabila sebelum berubah haluan ada perubahan haluan secara mendadak dari pengendara lain.

Sanksi Yang Didapat Jika Lalai Dalam Menghidupkan Lampu Sein?

Dalam kasus yang seringkali terjadi, harusnya seseorang yang akan berbelok ke kanan memberikan isyarat lampu petunjuk arah sesuai dengan arah belokannya (kanan) bukan pada arah sebaliknya (kiri). Karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak wajar dan dapat membuat pengemudi lain menjadi ragu sehingga dapat membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas.

Hal tersebut sesuai dengan Pasal 105 UU LLAJ, yang menyatakan setiap orang yang menggunakan jalan wajib:

  1. berperilaku tertib; dan/atau
  2. mencegah hal-hal yang dapatmerintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan, atau yang dapat menimbulkan kerusakan Jalan.
Gambar Diambil dari www.liputan6.com

Berdasarkan penjelasan tersebut, tindakan ibu-ibu yang akan berbelok ke kanan tetapi malah memberikan lampu isyarat kearah yang sebaliknya (kiri) dapat dikatakan telah membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.

Terhadap pengemudi yang lalai dalam menyalakan lampu penunjuk arah karena tidak sesuai dengan arah kendaraan berbelok atau berbalik arah, berpindah jalur atau bergerak ke samping (tidak wajar) sehingga membuat ragu pengemudi lain serta membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan, bisa dikenakan pidana sebagai berikut:

  • Pasal 283 UU LLAJ

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).

Selain itu sanksi pidana bagi kendaraan bermotor yang akan membelok atau berbalik arah tanpa memberikan isyarat adalah sebagai berikut:

  • Pasal 294 UU LLAJ

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang akan membelok atau berbalik arah, tanpa memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

  • Pasal 295 UU LLAJ

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang akan berpindah lajur atau bergerak ke samping tanpa memberikan isyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Gambar diambil dari teropongku.com

 Adab dalam berkendara

Sebagai seorang pengendara, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berkendara  diantarnya sebagai berikut :

Pertama, Kendaraan yang layak pakai.

Mengapa sangat penting untuk memastikan bahwa kendaraan dalam keadaan baik sebelum berkendara, karena faktor kendaraan akan sangat berpengaruh terhadap kelancaran dan keselamatan dari tingkat kecelakaan di jalanan.

Kedua, Pemahaman dan patuh terhadap maksud/arti dari setiap rambu lalu lintas.

Sebagai pengendara, tentu kita diharuskan tertib berkendara dijalanan dengan memahami maksud dari rambu rambu-rambu lalu lintas sehingga dapat menghindarkan diri dari kecelakaan karena tidak memahami dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Salah satunya memahami maksud dari lampu penunjuk arah sebagai isyarat jika ingin berbelok, berbalik dan/atau pindah jalur di jalanan.

Ketiga, Tetap mementingkan keselamatan dibandingkan kecepatan.

Dalam tingkat kecelakaan yang tinggi salah satu penyebabnya adalah karena pengendara yang tidar sabar atau terburu-buru saat berkendara, sehingga terjadi sedikit saja kesalahan akan mampu menyebabkan kecelakaan yang berakibat fatal. Sebaiknya sebagai pengendara lebih dapat mengestimasikan waktu perjalanan sehingga tetap dapat berkendara dengan tetrib tanpa terburu-buru.

 

Sebagai pengendara yang baik sudah seharusnya kita memahami apa yang menjadi pengetahuan dalam berkendara, agar tetap aman tertib berkendara dan selamat sampai tujuan.

 

Sumber :

  1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
  2. https://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5bebc8fda5189/hukumnya-pengendara-menyalakan-lampu-sein-kiri–tapi-belok-ke-kanan.
  3. https://www.carmudi.co.id/journal/etika-menyalakan-lampu-sein-banyak-yang-ngawur.

 

Profil Penulis:

Susi Susanti merupakan Mahasiswi Fakultas Hukum Semester IV Universitas Lampung, Angkatan 2018, Susi Susanti pernah mengikuti berbagai lomba diantaranya: Jess Up Competition dan Piala Asia Cup.

Tinggalkan Balasan