Implikasi Terburuk Meningkatnya Penyebaran Pandemi COVID-19, Terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

0
81

 

Sejak awal bulan Maret 2020, Indonesia digemparkan dengan salah satu warganya yang terkena virus corona dan memberikan dampak pada kesehatannya dan lingkungannya. Pada mulanya  saat mendengar penyebaran Covid-19 rasanya biasa-biasa saja, karena memang tidak memberikan dampak yang cukup signifikan bagi segala aspek kehidupan masyarakat. Hingga penyebaran virus yang bernama Covid-19 ini meluas di berbagai negara salah satunya Indonesia dan memberikan dampak yang besar ini cukup membuat pemerintah gelimpungan untuk mengatasi dan memutus rantai penyebaran Covid-19 tersebut.

Penanganan yang cukup terlalu santai dan menganggap tidak memberikan dampak yang besar membuat semakin cepat meluasnya penyebaran pademi Covid-19, Hal ini disebabkan oleh  tindakan yang diberikan kepada salah satu masyarakat yang terinfeksi Covid-19 yang dianggap terlalu biasa saja atau meremehkan. Bahkan, setelah pasien tersebut ditangani tidak ada tindak lanjut untuk melakukan diskusi secara  mendalam terkait dengan strategi memutus rantai penyebaran virus corona ini dan mempersiapkan diri untuk jika terjadi Implikasi terburuk semakin meningkatnya penyebaran Covid-19 tersebut.

Seperti sudah mendarah daging atau memang karakter dari bangsa kita yang mana untuk mengatasi suatu masalah harus menunggu permasalahan tersebut meluas dan menjadi besar bukan mengatasinya sejak masalah tersebut mulai menyingsing sehingga dalam penyelesaiannya pun lebih mudah dan cepat. Daripada harus menunggu masalah tersebut menjadi besar dan membuat penyelesaiannya lebih sulit dan lama serta membuat semuanya menjadi terburu-buru karena belum adanya persapan yang mumpuni pada awal dikabarkan meluasnya penyebaran Covid-19 di indonesia, hal  ini dapat kita lihat pada beberapa fenomena kekurangan APD, masker, dan segala macam bentuk protkol yang harus dilaksanakan dalam penanganan Covid-19 ini.

Dari sisi ekonomi, nilai mata uang rupiah terus melemah yang dimana pelemahan tersebut cukup signifikan terhadap nilai mata uang dollar amerika saat ini. Belum lagi, IHSG yang terus mengalami penurunan. Pada saat terdengar penyebaran Covid-19 rasanya biasa-biasa saja hingga penyebaran yang bernama virus corona ini meluas di berbagai negara salah satunya Indonesia dan memberikan dampak yang besar. Kemudian jumlah kasus positif virus ini terus bertambah hingga hari ini 22 Maret 2020.

catchmeup.id

Gambar diambil dari catchmeup.id

Kita bisa lihat bagaimana perkembangan virus ini yang terus bertambah setiap harinya di Indonesia. Lalu, apa hubungannya dengan rupiah dan IHSG?

Jadi, sejak virus ini terus meluas ke berbagai negara di Indonesia ini menjadi perhatian sangat khusus hingga WHO pun menyatakan bahwa virus corona sudah menjadi pandemi global.  Tingginya tingkat kematian akibat virus ini dalam beberapa bulan memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi masing-masing negara. Bahkan Bank Indonesia kini telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2020 dari 5-5,4% menjadi 4,2-4,6%.  Jika benar terjadi maka pertumbuhan ekonomi ini akan kembali seperti di tahun 2009 lalu.

Gambar diambil dari www.bps.go.id

Dengan berkurangnya proyeksi pertumbuhan ekonomi baik global maupun dalam negeri disebabkan oleh terganggunya aktivitas ekspor-impor di berbagai negara termasuk China. Berdasarkan data dari BPS di atas, selama tahun 2019, China menjadi negara terbesar pangsa pasar ekspor nonmigas.

Sehingga dengan menyebarnya virus ini banyak perusahaan mulai menurunkan kegiatan operasional yang berimbas pada terbatasnya jam operasional dan produksi untuk sementara waktu agar virus tidak lebih menyebar. Ini akan berdampak buruk pada penurunan penjualan sehingga akan berimbas pada laba rugi perusahaan. Kemudian akan berujung pada menurunnya pertumbuhan ekonomi negara.

Dalam hal ini pasar modal Tanah Air masih dalam tren penurunan, tertekan sentimen penyebaran virus corona Covid-19 yang diprediksi menghantam pertumbuhan ekonomi global. Sejak awal tahun hingga 23 Maret 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang jadi acuan pasar modal sudah turun 36,67 persen, dengan ditutup di level 3.989. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak 8 tahun terakhir.

Menurut data Bursa Efek Indonesia yang diolah Bareksa, level penutupan IHSG kemarin (23/03/2020) sudah menyamai level di Mei 2012. Pada saat itu, IHSG juga sedang berfluktuasi hingga turun 12,7 persen dalam sebulan karena krisis utang Eropa dan perlambatan ekonomi China. Sementara itu, pada 2012, IHSG tertekan sekitar 10 persen dalam waktu sebulan. Namun, nilai tukar rupiah tidak terdepresiasi terlalu dalam, sekitar 4,5 persen sejak awal tahun hingga Mei 2012. Kemudian, proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh Bank Indonesia telah direvisi menjadi di kisaran 4,2-4,6 persen, lebih rendah dibandingkan sebelum isu virus corona menyebar di kisaran 5,2-5,6 persen. Pada tahun 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia aktual masih di 6 persen, meski lebih rendah dari tahun sebelumnya tetapi jauh lebih tinggi daripada proyeksi di 2020.

Tentu saja ini bukan kabar yang baik apalagi jika kita melihat bagaimana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun. Secara year to date IHSG sudah mengalami penurunan hingga 33,41%. Penurunan yang cukup dalam sejak awal tahun muali bertambah ketika memasuki bulan Maret akibat virus corona yang menyebar berbagai kota di Indonesia. Jika dibandingkan beberapa tahun terakhir, penurunan IHSG ini bahkan melebihi tahun 2015 yang ketika waktu itu IHSG sudah cukup dalam penurunannya. Desas desus krisis mulai gencar di media sosial. Jika dilihat dari tahun 1998 dan 2008 tentu saja saat ini belum apa-apa ketika di waktu tersebut IHSG mengalami penurunan yang sangat dalam hingga di kisaran 60%. Untuk saat ini saya rasa masih jauh dari kata krisis. Hanya saja untuk pertumbuhan ekonomi kuartal 1 tahun 2020 ini nampaknya akan lebih rendah daripada kuartal-kuartal sebelumnya.

Dilansir dari laman liputan 6 com, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal berada di kisaran 2,3 persen. Bahkan skenario terburuknya bisa menyentuh negatif 0,4 persen. Skenario terburuk itu bisa terjadi jika pandemi virus corona atau Covid-19 terus berlangsung dalam jangka panjang. Dengan demikian secara otomatis akan menghantam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menteri Sri Mulyani mengatakan penyebaran Virus Corona yang masif di Indonesia membuat penurunan pada kegiatan ekonomi. Itu terjadi pada berbagai sektor lembaga keuangan di Indonesia seperti perbankan hingga konsumsi rumah tangga yang menurun. “Konsumsi rumah tangga turun, bisa mencapai 2,60 persen, investasi juga turun” kata dia.

Di sektor konsumsi rumah tangga terjadi ancaman kehilangan pendapatan masyarakat karena tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terutama rumah tangga miskin dan rentan serta sektor informal.Kemudian, penurunan lainnya juga terjadi pada UMKM. Pelaku usaha ini tidak dapat melakukan kegiatan usahanya sehingga terganggu kemampuan memenuhi kewajiban kredit.

“Sehingga kondisi itu membuat NPL kredit perbankan untuk UMKM dapat meningkat secara signifikan. Sehingga berpotensi semakin memperburuk kondisi perekonomian,” katanya.

Bendahara negara ini menambahkan pelemahan perekonomian juga berdampak ke sektor korporasi dan sektor keuangan lainnya.Sektor korporasi terganggu aktivitas ekonominya yang paling rentan yakni di bidang manufaktur, perdagangan, dan transportasi.

“Gangguan aktivitas bisnis tersebut akan menurunkan kinerja bisnis sehingga menyebabkan pemutusan hubungan kerja dan bahkan mengalami ancaman kebangkrutan,” katanya.

Selanjutnya yang terjadi di sektor perbankan dan perusahaan pembiayaan berpotensi mengalami persoalan likuiditas. Sehingga menyebabkan depresiasi rupiah volatilitas pasar keuangan dan capital flight.

Kemudian dapat kita tarik kesimpulan jika dengan semakin banyaknya rentetan dampak virus ini akan menjadi kendala dalam perekonomian tidak hanya Indonesia bahkan dunia. Kedepanya jika tidak segera diatasi dengan perhatian khusus wabah ini dapat mengganggu perekonomian. Pertumbuhan ekonomi yang menurun bisa membuat dampak yang besar bagi kelangsungan bisnis dan investasi di semua sektor khususnya di Indonesia kedepannya.

Profil Penulis :

Aling Mai Linda Sari Purti adalah Mahasiswa Universitas Lampung Tahun Ketiga Angakatan 2017.

Tinggalkan Balasan