Jangan Salah Artikan Tradisi “Sebambangan”!

2
607

Oleh : Eka Dahlia

Indonesia kaya akan berbagai budaya-budaya atau adat yang beraneka ragam di berbagai daerah terdapat budaya nya masing –masing. Adat istiadat sendiri adalah kumpulan tata kelakuan paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan ter integrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memiliki nya dan salah satu adat istiadat di indonesia adalah adat istiadat Lampung.

Bahwa  berdasarkan adat istiadatnya penduduk suku Lampung, salah satu adat istiadat dalam tradisi perkawinan masyarakat lampung adalah sebambangan. Sebambangan atau larian adalah dimana pihak laki-laki melarikan gadis atas dasar suka sama suka, adanya kesepakatan anatara bujang dan gadis terlebih dahulu,dan perempuan tersebut akan meninggalkan surat dan uang sebagai pengepik biasanya di letakkan di bawah kasur tempat tidur gadis tersebut. Ini merupakan tradisi asli masyarakat lampung budaya yang sudah mengakar sejak jaman nenek moyang. Sebambangan ini umumnya terjadi pada garis keturunan ayah atau patrilineal. Latar belakang terjadinya sebambangan ini ialah karena cinta kasih yang melampaui batas dan karena pihak pemuda tidak mampu memenuhi biaya adat perkawinan yang diminta oleh pihak gadis. Takut tidak mendapatkan restu dari orangtua serta keluarga dan adanya keinginan untuk mengikuti adat yang ada sebab itulah terjadinya perkawinan adat sebambangan ini.

Pelaksanaan sebambangan dilakukan sesuai dengan janji antara mulei (gadis) dan mekhanai (laki laki/bujang). Pada waktu yang telah ditentukan bersama, si gadis diambil oleh kerabat pihak bujang dari kediaman atau si gadis datang sendiri ke tempat kediaman pihak bujang yang segala sesuatunya berjalan menurut tata tertib adat larian/sebambangan.

“TRADISI SEBAMBANGAN DI TINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM PIDANA”

Adat perkawinan larian (sebambangan) dalam kaitannya dengan pasal 332 KUHP ayat 1 tentang melarikan perempuan yang berbunyi :

“Bersalah melarikan wanita diancam dengan” :

  1. Paling lama tujuh tahun, barangsiapa membawa pergi seorang perempuan yang belum dewasa, tanpa dikehendaki orang tua nya atau walinya tetapi dengan persetujuan wanita itu, baik di dalam maupun di luar pernikahan.
  2. Paling lama 9 tahun jika membawa lari perempuan dilakukan dengan tipu muslihat,kekerasan atau ancaman kekerasan,dengan maksud untuk memastikan penguasaannya atas perempuan itu,baik di dalam maupun do luar perkawinan.

Adat sebambangan memenuhi unsur dalam pasal 332 ayat 1 kitab undang undang hukum pidana yang pelakunya dapat dikenakan sanksi pidana menurut pasal 332 KUHP tersebut.

Sebambangan menurut hukum adat lampung diperbolehkan atas dasar suka sama suka antara pihak laki-laki maupun perempuan, karna ketidak mampuan laki-laki untuk memberikan uang tanda pemberi atau (jujor) jika melalui proses lain dalam pernikahan adat lampung tersebut dan pihak laki tidak di berikan sanksi pidana walaupun misalnya nanti ada permasalahan maka laki-laki akan mendapat sanksi dari peting-petinggi adat biasanya berupa sanksi cemoohan atau hinaan dari masyarakat lingkungannya dan penyelesaiannya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atau kekerasan biasa di selesaikan dengan cara kekeluargaan dan musyawarah. Sedangkan dalam hukum pidana telah di atur dalam Pasal 332 KUHP ayat 1 dan 2 bahwa pelaku atau laki yang melarikan gadis tersebut bisa dipidana apabila si gadis masih di bawah umur atau pihak keluarga gadis melapor kepada pihak yang berwajib dan menuntut laki-laki tersebut dengan memenuhi persyaratan pasal 332 KUHP laki-laki tersebut bisa di pidana, dan laki-laki tersebut tidak bisa di pidana jika laki-laki dan perempuan terbut melakukan perkawinan tunduk pada aturan-aturan BW.

Kesimpulan

Sebambangan atau larian adalah adat lampung dimana pihak laki-laki melarikan gadis atas dasar suka sama suka,adanya kesepakatan anatara bujang dan gadis terlebih dahulu,dan perempuan tersebut akan meninggalkan surat dan uang sebagai pengepik. Kebiasaaan Ini merupakan tradisi asli masyarakat lampung budaya yang sudah mengakar sejak jaman nenek moyang pepadun dan saibatin. Adat perkawinan larian/sebambangan memenuhi unsur pasal 332 KUHP sehingga perbuatan tersebut dapat dikategorikan sebagai suatu tindak pidana. Namun pada kenyataannya penyelesaian persoalan larian dalam masyarakat adat lampung dilakukan secara kekeluargaan dan musyawarah, sehingga perbuatan larian/sebambangan tersebut tidak dapat dipidana.

Sumber :

  • https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt50b86bf37cf0d/bahasa-hukum–melarikan-perempuan-di-bawah-umur/

Profil Penulis :

Eka Dahlia merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung. Saat ini aktif sebagai Anggota Bidang Kajian UKM-F Pusat Studi Bantuan Hukum (PSBH) Fakultas Hukum Universitas Lampung  periode 2019/2020.

2 KOMENTAR

  1. kalo untuk dari perspektif hukum islam, apakah sebambangan ini bertentangan ya?
    kalo tidak kenapa alasannya begitupun sebaliknya, terimakasih

Tinggalkan Balasan