Dunia Menyoroti, Tamparan Keras Penegakan Korupsi

1
222

Oleh : Adam Khafi Ferdinand
Kepala Bidang Kajian UKM-F PSBH 2019/2020

Memberantas korupsi itu tak semudah membalikan telapak tangan. Mencoba melawan dengan tegas malah disiram dengan air keras. Novel Baswedan, selaku penyidik senior KPK yang mengalami penderitaan pada matanya akibat ingin memberantas korupsi di negeri ini. Bukan hanya Novel, saat ini masih terdapat 115 korban dan 91 kasus aktivis antikorupsi yang masih belum selesai. Negara jelas bertanggung jawab akan hal ini, sebuah hutang jaminan perlindungan dan keadilan bagi para aparatnya. 

Penunjukan komitmen memberantas korupsi selalu di gadang-gadang oleh pemerintah, tapi kita selalu bertanya pemerintah yang mana. Penegakan hukum di Indonesia ini selalu bermasalah, terutama yang menyangkut kasus korupsi. Memang tidak mudah, tapi itulah pemerintah dimata rakyatnya. Masyarakat sudah muak dengan ratusan kasus korupsi yang dilakukan pejabat pemerintah tiap tahunnya.

Kasus Novel sendiri sudah berjalan sekitar 842 hari, dan sampai kini belum ada kejelasan yang pasti siapa dalang dibalik serangan air keras tersebut. Hasil temuan tim pencari fakta pun tak memuaskan, ekspetasi yang tinggi dibayar dengan hasil yang mengecewakan. Alih-alih menemukan pelaku teror, tim ini malah terlihat menyudutkan sang korban.

Baca juga : Sulit Melawan Korupsi (Gelapnya Kasus Novel)

Menjadi Sorotan Dunia

Foto diambil dari Twitter

Kasus itu pun menjadi salah satu topik pembahasan pada forum ‘Human Rights in Southeast Asia: A Regional Outlook’ di Subcommittee on Asia, the Pacific, and Nonproliferation House Foreign Affairs Committee. Amnesty International atau disebut AI membahas kasus penyerangan Novel Baswedan pada sesi dengar pendapat di Kongres Amerika Serikat, Kamis (25/7/2019) pukul 10.00 waktu setempat atau pukul 21.00 waktu Indonesia.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid mengaku sengaja mengangkat kasus Novel ke Amerika, bahkan juga ke Badan-badan PBB. Ia menilai isu korupsi adalah isu global yang sangat penting. Serangan yang ditujukan terhadap Novel Baswedan sangat memperlihatkan hubungan erat antara isu korupsi dan hak asasi manusia.

3 (tiga) alasan utama Usman mengangkat kasus Novel pada Kongres AS. Pertama, untuk mengalang dukungan bagi KPK dari dunia internasional. Kedua, serangan terhadap Novel tak cuma soal Novel belaka. Serangan ini mengindikasikan masalah serius yang mengancam kelanjutan pelaksanaan agenda reformasi di Indonesia khususnya dalam pemberantasan korupsi dan penegakan HAM. Terakhir, kasus Novel adalah ancaman terhadap siapapun yang memperjuangkan tegaknya negara hukum yang bebas korupsi maupun kekerasan dan pelanggaran HAM.

Jauh hari sebelum pembahasan ini, Kongres AS ternyata sudah memberikan perhatian terhadap kasus Novel dan pemberantasan korupsi di Indonesia. Ini termaktub dalam ringkasan laporan tahun 2018 tentang praktik HAM di Indonesia yang dirilis Maret 2019.

Francisco Bencosme selaku Manajer Advokasi Asia Pasifik Amnesty International USA, mengatakan pihaknya akan terus mengampanyekan pertanggungjawaban atas penyerangan ke Novel Baswedan yang terjadi pada 2017. Kasus HAM lain yang dibawa Francisco antara lain dugaan pelanggaran HAM terkait ‘perang melawan narkoba’ di Filipina yang digaungkan Presiden Rodrigo Duterte hingga persoalan Rohingya dari Rakhine State di Myanmar.

Biasanya jika negara besar menaruh perhatian artinya kasus itu dianggap penting. Ini menunjukkan bahwa komunitas internasional lebih peduli daripada pemerintah Indonesia dan berlarut-larutnya kerja Polri pada penyelesaian perkara Novel. 

Pembahasan kasus Novel di kongres AS, membuat nama baik dan kepercayaan publik internasional kepada penegak hukum Indonesia menurun. Ini lantaran kasus Novel merupakan kasus HAM, dan kasus HAM adalah urusan semua umat manusia.

Walaupun begitu, publik menilai bahwasanya hal ini merupakan tamparan keras bagi pemerintah Indonesia dalam penegakan hukum. Adanya konflik kepentingan serta independensi Polri dalam menangani kasus tersebut, menjadi faktor penghambat dalam pengungkapan kasus ini. Pemerintah dianggap tidak peka terhadap hal Ini. Bahkan presiden masih memberikan kesempatan kepada kepolisian yang terbukti gagal mengungkap kasus Novel.

Seharusnya kasus Novel ini menjadi pemersatu kerja sama komponen bangsa. Bukan cuma aktivis antikorupsi dan HAM saja, aktivis lainnya serta aparat penegak hukum dan pemerintah harus serius dalam menyelesaikan kasus ini. Masyarakat juga harus berpartisipasi dan mengawasi serta peduli terhadap permasalahan yang terjadi di negeri ini, terutama terkait dengan pencegahan dan pemberantasan Korupsi.

Sumber :

  1. https://tirto.id/amnesty-international-akan-bahas-kasus-novel-baswedan-di-kongres-as-ee3i
  2. https://nasional.tempo.co/read/1228745/alasan-amnesty-international-bawa-novel-baswedan-ke-kongres-as

Referensi :

  1. https://www.youtube.com/watch?v=_WRvCgadZeg
    “Sebelah Mata Novel Baswedan | Mata Najwa”
  2. https://majalah.tempo.co/read/…/langkah-mundur-temuan-tim-gabungan-kasus-novel

Profil Penulis :

Adam Khafi Ferdinand merupakan mahasiswa Ilmu Hukum jurusan Hukum Pidana semester VII. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Bidang Kajian UKM-F PSBH periode tahun 2019/2020. Prestasi yang pernah diraih yakni Juara 1 RMCC Piala Dekan I Universitas Lampung 2017 dan predikat Penuntut Umum Terbaik dalam NMCC Anti-Money Loundering V di Universitas Trisakti tahun 2018.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan