Penggunaan Pengeras Suara di Masjid: Ternyata Begini Aturannya!

0
215

Oleh : Aliffira Sekarningrum dan Karmila Sari

Bulan Ramadhan menjadi bulan penuh berkah bagi umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini mendorong umat Muslim untuk berbondong-bondong memperbanyak aktifitas di masjid. Tak jarang beberapa kegiatan yang dilakukan mengharuskan mereka menggunakan alat pengeras suara sebagai sarana pendukung. Tidak hanya di masjid penggunaan pengeras suara digunakan pula di langgar dan mushalla dengan tujuan untuk memperluas jangkauan penyampaian, seperti adzan, iqomah, do’a, praktik sholat, takbir, pembacaaan ayat Al-Qur’an, pengajian, dan lain sebagainya. Namun, pengeras suara yang digunakan terkadang melebihi ambang ketinggian suara dengan jangka waktu penggunaan yang relatif lama. Dengan ini timbul berbagai kritik masyarakat dalam penggunaan pengeras suara, sebagian orang merasa terganggu dengan penggunaan pengeras suara yang digunakan pada waktu-waktu yang tidak tepat.

Fenomena ini pada dasarnya telah diatur dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor KEP/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushalla. Sebenarnya, tidak ada larangan dalam dalam penggunaan pengeras suara tetapi terdapat imbauan kepada seluruh masjid untuk tidak terlalu keras membunyikan pengeras suara. Intinya adalah penggunaan pengeras suara di masjid jangan terlalu keras dan jangan melampaui masjid yang satu dan lainnya karena jarak antar masjid itu rata-rata 500 meter. Hal tersebut sejalan dengan lampiran ketentuan terkait yang menyebutkan bahwa terdapat batasan-batasan dalam hal keluarnya suara yang dapat menimbulkan gangguan walaupun yang disuarakan adalah ayat suci,do’a, atau panggilan kebaikan sebagaimana hal ini diatur dalam ayat Al-Qur’an terutama tentang kewajiban menghormati tetangga dan beberapa hadits Nabi Muhammad SAW.

Jadi, apasih persyaratan yang harus dipenuhi dalam penggunaan pengeras suara?

Agar pengeras suara di dalam masjid, langgar, atau mushalla berfungsi dengan tepat maka terdapat persyaratan yang harus dipenuhi dalam penggunannya, seperti:

  1. Perawatan Pengeras Suara oleh seorang yang terampil dan bukan mencoba-coba atau masih belajar. Dengan demikian tidak ada suara bising, berdengung yang dapat menimbulkan anti-pati atau anggapan tidak teraturnya suatu masjid, langgar, atau mushalla.
  2. Mereka yang menggunakan Pengeras Suara (muadzin, pembaca Qur’an, imam sholat, dan lain-lain) hendaknya memiliki suara yang fasih, merdu, enak, tidak cemplang, sumbang, atau terlalu kecil. Hal ini menghindari anggapan orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid dan bahkan jauh dari cinta dan simpati yang mendengar selain menjengkelkan.
  3. Dipenuhinya, syarat-syarat yang ditentukan seperti tidak bolehnya terlalu meninggikan suara do’a, dzikir, dan sholat. Karena dapat menimbulkan simpati melainkan keheranan bahwa umat beragama sendiri tidak menaati ajaran agamanya.
  4. Dipenuhinhya syaray-syarat dimana orang yang mendengar berada dalam keadaan siap untuk mendengar. Bukan dalam waktu tidur, istirahat, sedang beribadah, atau melakukan upacara. Keadaan demikian (kecuali panggian adzan) tidak akan menimbulkan kecintaan orang melainkan sebaliknya.
  5. Dari tuntunan Nabi, suara adzan sebagai tanda masuk sholat memang harus ditinggikan sehingga tidak dapat diperdebatkan. Namun, yang perlu diperhatikan agar suara muadzib tidak sumbang, merdu, dan syahdu.

Lalu, kapan waktu yang tepat untuk menggunakan pengeras suara?

Berdasarkan Instruksi Direktur Jendral Bimas 101/1978, pengeras suara di masjid dapat digunakan pada waktu-waku:

  1. Waktu Subuh
  • Sebelum waktu subuh, dapat dilakukan kegiatan-kegiatan dengan menggunakan pengeras suara paling awal 15 menit sebelum waktunya. Kesempatan ini digunakan untuk membangunkan kaum muslimin yang masih tidur, guna persiapan shalat, membersihkan diri, dan lain-lain
  • Kegiatan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dapat menggunakan pengeras suara keluar. Sedangkan ke dalam tidak disalurkan agar tidak mengganggu orang yang sedang beribadah di masjid
  • Adzan waktu subuh menggunakan pengeras suara keluar
  • Shalat subuh, kuliah subuh, dan semacamnya menggunakan pengeras suara (bila diperlukan untuk kepentingan jama’ah) dan hanya ditujukan ke dalam saja

2. Waktu Dzuhur dan Jum’at

  • Lima menit menjelang dzuhur dan 15 menit menjelang waktu dzuhur dan Jum’at diisi dengan bacaan Al-Qur’an yang ditujukan ke luar
  • Demikian juga suara adzan bilamana telah tiba waktunya
  • Bacaan shalat, do’a pengumuman, khutbah dan lain-lain menggunakan pengeras suara yang ditujukan ke dalam

3. Ashar, Maghrib, dan Isya

  • Lima menit sebelum adzan dianjurkan membaca Al-Qur’an
  • Saat datang waktu shalat, dilakukan adzan dengan pengeras suara ke luar dan ke dalam
  • Sesudah adzan, sebagaimana lain-lain waktu hanya menggunakan pengeras suara ke dalam

 4. Takbir, Tarhim, dan Ramadhan

  • Takbir Idul Fitri, Idul Adha dilakukan dengan pengeras suara ke luar
  • Tarhim yang berupa do’a menggunakan pengeras suara ke dalam dan tarhim dzikir tidak menggunakan pengeras suara
  • Pada bulan Ramadhan di siang dan malam hari, bacaan Al-Qur’an menggunakan pengeras suara ke dalam

5. Upacara hari besar Islam dan Pengajian

Tabligh/pengajian hanya menggunakan pengeras suara yang ditujukan ke dalam dan tidak untuk ke luar karean terkadang reaksi pendengarnya merasa terganggu bagi yang istirahat daripada didengarkan sungguh-sungguh, kecuali hari besar Islam memang menggunakan pengeras suara yang ditujukan ke luar.

 

Eksistensi dari Instruksi Direktur Jendral Bimas 101/1978 nyatanya masih berlaku hingga saat ini, mungkin terlihat lampau untuk suatu aturan yang telah disahkan sejak tahun 1978. Namun, Instruksi Direktur Jendral Bimas 101/1978 dirasa telah memuat dengan jelas segala ketentuan yang berkaitan dengan penggunan pengeras suara dia masjid, langgar, atau mushalla. Sebagai bentuk mensosialisasikan kembali tuntunan tentang penggunaan pengeras suara di masjid maka Kementerian Agama mengesahkan Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Nomor B.3942/DJ.III/HK.00.07/08/2018 tertanggal 24 Agustus 2018. Langkah sosialisasi yang dilakukan pun sebagai bentuk me-refresh pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat terkait penggunaan pengeras suara serta menghindarkan anggapan orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid, langgar, atau mushalla dalam menggunakan pengeras suara.

So, bukan berarti dengan adanya aturan tentang penggunaan pengeras suara di masjid, langgar, atau mushalla menjadi penghambat kalian untuk tetap beribadah ya! Ayo luruskan niat dan semangat berpuasa!

Anggota Bidang Kajian UKMF-Pusat Studi Bantuan Hukum (PSBH) FH UNILA Periode 2019/2020

Referensi         :

  1. https://kemenag.go.id/myadmin/public/data/files/users/3/Surat%20Edaran%20ttg%20Pengeras%20Suara.pdf
  2. https://kemenag.go.id/berita/read/508539/kemenag-minta-kanwil-sosialisasikan-kembali-aturan-pengeras-suara-di-masjid

Tinggalkan Balasan