Tinta Pemilu Masih di Jari, Wudhu Sah atau Tidak?

1
273

Oleh : Adam Khafi Ferdinand
Kepala Bidang Kajian UKM-F PSBH 2019/2020

Setelah melakukan pemilihan umum, “ritual” yang biasa orang Indonesia lakukan dan salah satu aturan seusai mencoblos adalah menyelupkan salah satu jari ke dalam tinta khusus yang berwarna ungu. Hal ini menjadi tanda bahwa pemilih telah memilih.

Warna ungu pada tinta pemilu ternyata dipilih karena dapat memberi bekas warna coklat atau hitam. Hal ini disebabkan pula dengan adanya senyawa perak nitrat di dalamnya. Zat inilah yang disebut dapat meninggalkan bekas noda pada kulit dalam 1 hingga 3 hari.

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah tinta yang digunakan dalam Pemilu dapat mencegah sampainya air wudhu ke anggota tubuh yang dibasuhnya? Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa dalam melaksanakan wudhu, kita harus meratakan air di seluruh anggota tubuh yang harus terkena air wudhu.

Hadits Tentang Kuku yang Tidak Basah :

Yang pertama bisa kamu lihat dari hadits tentang jari kuku yang tidak tersentuh air. Hadits riwayat Imam Muslim yang didapatkan dari Umar bin Khattab ini menceritakan tentang seorang sahabat yang setelah berwudhu, diminta mengulangi wudhunya oleh Nabi Muhammad SAW.

Diriwayatkan oleh Muslim, Hadits ini berbunyi :

“Ada seseorang yang berwudhu lalu dia membiarkan seluas satu kuku di jari kakinya tidak terkena air. Rasulullah SAW memperhatikannya dan menyuruhnya,”Kembali, ulangi wudhumu dengan baik.” Orang inipun mengulangi wudhunya, lalu dia shalat.”

Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang kukunya masih belum basah, maka wudhunya belum sempurna dan tidak sah, sehingga harus diulang.

Sumber dari NU Online

Seperti yang kita ketahui banyak beredar kabar yang belum pasti kebenarannya, tentang tinta saat pemilu nanti akan membuat Salat kita tidak sah, dikarenakan tinta tersebut akan menghalangi air wudhu yang akan digunakan untuk membasuh bagian tubuh.

Untuk menjawab itu, mari kita perhatikan baik-baik ketentuannya terlebih dahulu. Dalam Peraturan KPU No 16 tahun 2013 telah ditetapkan tentang Norma, Standar Kebutuhan Pengadaan dan Pendistribusian Perlengkapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD tahun 2014, Pasal 10 ayat 6 berbunyi :

“Tinta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan sertifikat halal dan tidak menghalangi air untuk keabsahan wudhu dari Majelis Ulama Indonesia”

Menurut Kiyai Ahmad Ikrom, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Nahdlatul Ulama (PPMNU) Kemang, Bogor, tinta pemilu tidak akan membuat wudhu Anda menjadi tidak sah.

“Karena sudah teruji, dan tinta tersebut juga menggunakan bahan bahan alami. Kondisinya mirip seperti orang yang memakai pacar kuku, meski warna bertahan lama pada kuku, tetapi sifat dari tinta Pemilu tersebut tidak membuat lapisannya menghalangi air.” Ia juga menjelaskan “Dengan membersihkannya ini akan membuat elemen-elemen yang dapat membatalkan wudhu dapat hilang dan terkelupas dari permukaan kulit sehingga tidak menghalangi mengalirnya air wudhu tersebut.” (Okezone.com)

Meski demikian, jika Anda memang ragu terhadap keabsahan tinta pemilu tersebut, maka Anda bisa membersihkannya terlebih dahulu sebelum ber-wudhu

Referensi :

  1. Peraturan Komisi Pemilihan Umum No. 16 tahun 2013 telah ditetapkan tentang Norma, Standar Kebutuhan Pengadaan dan Pendistribusian Perlengkapan Penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD tahun 2014
  2. http://www.kemenperin.go.id/artikel/2935/Tinta-Pemilu-Baristand-Industri-Padang
  3. Okezone.com
  4. Liputan6.com

Profil Penulis :

Adam Khafi Ferdinand
Kepala Bidang Kajian UKM-F PSBH 2019/2020

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan