Body Shaming Bisa terkena Pidana

0
291

Oleh : Krisna Dewi

Anggota Tetap 2018

Tak dipungkirin, era masa kini membuat teknologi informasi juga berkembang dengan pesat. Siapa yang tak kenal dengan media sosial, hampir semua manusia yang ada di dunia menggunakan sosial media. Media sosial yang begitu beragam menjadikan seseorang lebih ekspresif dalam memperkenalkan dirinya. Konten yang diunggah oleh pengguna media sosial, sebagian besar adalah merupakan kegiatan sehari-hari dan juga ekspresi diri.

Media sosial yang dilengkapi oleh fitur kolom komentar, menjadikan setiap orang dapat mengomentari unggahan orang lain tanpa ada syarat atau larangan apapun. Tak hanya komentar positif, banyak pula komentar negatif yang sering dapat kita jumpai di media sosial. Hal tersebut sering dianggap menjadi bahan candaan atau sekedar mengompori dalam situasi tertentu.

Komentar negatif yang paling sering saat ini adalah mengenai body shaming. Body shaming ialah mengomentari kekurangan fisik orang lain. “Kok lu gendut banget sih, makanya diet dong biar badan lo ga gendut kayak gitu”, “ih jerawat lu kok gitu sih, perawatan dong, serem liatnya”, “lu item banget sih”. Sering sekali komentar-komentar diatas kita ucapkan kepada orang lain tanpa kita sadari. Body Shaming pada dasarnya menyakiti psikis seseorang, bahkan banyak korban body shaming merasakan stress dan tidak mampu menerima keadaannya.

Tapi pernahkan kita tau jika Body Shaming dapat membawa kita terkena sanksi pidana, dan harus berurusan dengan hukum?

Melakukan Body Shaming terhadap orang lain di media sosial dapat menjadikan membuat terkena sanksi pidana. Pada dasarnya seseorang yang melakukan body shaming terhadap orang lain, dalam hal ini dapat dipidana, jika korban body shaming tersebut merasa terhina atau perkataannya menyakiti dan mengganggu serta membuat korban merasa tidak nyaman dapat melaporkan aduannya kepada pihak berwajib. Dalam KUHP tindakan body shaming masuk kedalam pasal 315 KUHP.

Dan terdapat pada pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) UU Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Adi Deriyan menuturkan “Body Shaming dapat dilaporkan kepada pihak yang berwajib, syaratnya jika dilakukan melalui media sosial, maka menggunakan UU ITE, jika tidak, menggunakan tindak pidana biasa”.

Dari hal ini dapat kita tau pentingnya memberikan komentar pada unggahan orang lain, baik itu teman, kerabat atau hanya sekedar teman dimedia sosial. Pentingnya pemahaman ini juga untuk mengurangi tingkat ketidakpercayaan diri orang lain, mengapa banyak orang lain berusaha tampil sangat menarik dimedia sosial dan bertolak belakang di kehidupan nyata, hanya karena takut terkena body shaming dari orang lain.

Profil Penulis

Krisna Dewi adalah anggota kelompok Requisitoir yang berhasil menyabet juara II pada IMCC 2017

Tinggalkan Balasan