Pelecehan Seksual Bak Sebuah Ritual

0
60

Pelecehan Seksual Bak Sebuah Ritual

Pemberitaan tentang pelecehan seksual dimasa sekarang ini terus menjadi sorotan. Kejahatan ini seakan sudah menjadi suatu fenomena yang biasa terjadi pada hal faktanya, ini menjadi suatu lonceng pertanda bahaya. Kejahatan seksual yang masih terus terjadi khususnya di Indonesia ini menjadi suatu pertanda bahwa keamanan kita  sebagai warga Negara belum sepenuhnya terjamin oleh negara. Lebih menghawatirkan lagi, pelecehan seksual sekarang ini sudah mengancam semua orang baik itu laki – laki, perempuan, bahkan anak – anak sekalipun. Parahnya, kejahatan ini tidak lagi memandang tempat. Dalam artian, pelaku pelecehan seksual bias melakukan aksinya dimana saja seperti di jalan, terminal, stasiun, sekolah, atau bahkan di tempat ibadah.

Aturan yang tercantum pada UUD Pasal 28D ayat 1 yang berbunyi “Hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di depan hukum” dan pasal – pasal pada KUHP seperti Pasal 284, 285, 293 seakan tidak cukup kuat untuk melindungi warganegara dari kejahatan seksual. Lalu, mengapa aturan-aturan yang sudah ada mengenai pemidanaan pelaku pelecehan seksual belum juga membuat para pelaku takut dan masih tetap gencar melakukan kejahatan demikian ?

gambar diambil dari sonora.id

Usia seakan sudah bukan lagi sebagai patokan orang yang berpotensi sebagai pelaku pelecehan seksual. Kebanyakan memang pelaku – pelaku pelecehan seksual adalah laki – laki dewasa, namun tidak jarang pula ditemukan orang – orang yang lanjut usia melakukan perbuatan kejam ini. Target dari si pelaku atau korban pelecehan seksual pun tidak hanya berasal dari satu golongan manusia, tetapi semua golongan manusia pun bias jadi korban. Kebanyakan korban pelecehan seksual adalah perempuan. Dikuti dari data Komnas Perempuan tahun 2019, kasus pelecehan seksual mencapai angka 4.898 Kasus. Sedangkan pada 2020, sejauh ini sudah tercatat 461 kasus. Selain itu, anak – anak pun tak luput menjadi korban pelecehan seksual. Berdasarkan data KPAI pada tahun 2019, terdapat 17 kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dengan korban 89 anak, terdiri dari 55 anak perempuan dan 34 anak laki – laki. Di masa pandemi seperti sekarang ini, lagi – lagi kasus pelecehan seksual terus bermunculan.Terakhir, Seorang pria yang mengaku sebagai nakes bermodus rapid test melakukan pelecehan seksual dan penipuan terhadap seorang perempuan.Si pelaku akhirnya ditangkap dan hanya diancam 9 tahun penjara.

Walaupun sudah ada Undang-Undang yang mengaturnya secara resmi, namun kasus pelecehan seksual ini masih terus bermunculan. Ada beberapa factor mengapa para   pelaku pelecehan seksua lnekat melakukan perbuatan yang kejam itu. Faktor pertama yang mungkin cukup mempengaruhi adalah Lingkungan. Bisa saja si pelaku pelecehan seksual memang sudah lama hidup di lingkungan yang menganggap kekerasan seksual itu hanyalah perbuatan biasa yang seakan sudah menjadi budaya. Karena terlalu lama hidup di lingkungan tersebut maka anggapan itu menjadi tertanam di pikirannya dan rasa keingintahuannya yang muncu lmendorong dia untuk melakukan pelecehan tersebut tanpa memikirkan dampak kedepannya.

Selain itu, kesalahan penggunaan kekuasaan juga bias menjadi pemicu terjadinya pelecehan seksual. Contoh konkretnya, di beberapa kasus yang korbannya anak – anak justru pelakunya adalah guru mereka sendiri. Mereka menggunakan alasan – alas an memberikan edukasi kepada murid mereka sendiri untuk menjalankan perbuatannya. Perilaku seks yang menyimpang juga menjadi alasan mengapa kekerasan seksual masih terus terjadi. Para pelaku yang mengalami perilaku seks menyimpang melakukan perbuatan tersebut kepada korban yang tidak bersalah hanya untuk memenuhi nafsu mereka semata.

Pastinya kita memiliki harapan agar kasus pelecehan seksual ini tidak terjadi lagi dan mengancam keamanan setiap orang. Namun, pemerintah bersama – sama dengan kita sebagai warga Negara harus saling mendukung untuk tercapainya harapan ini. Langkah – langkah yang perlu dilakukan adalah mulai dari kita sendiri. Bagi orangtua, penting untuk mereka mendidik, merawat, dan mencintai anak – anak mereka terutama mengajarkan mereka tentang nilai – nilai agama agar anak – anak tetap merasa terlindungi, diperhatikan sehingga mereka tidak akan mecoba mencari kebahagiaan mereka dengan melakukan hal – hal yang tidak baik karena biasanya pelaku pelecehan seksual tumbuh di keluarga yang tidak harmonis dan mereka merasa tidak di perhatikan.

Pemerintah pun perlu bergerak untuk lebih menguatkan lagi payunghukum yang mengatur pelecehan seksual yang sudah ada, atau bahkan hukuman yang lebih berat lagi bagi para pelaku, agar sipelaku akan lebih merasa jera atau membuat aturan baru yang lebih spesifik dalam mengatur pencegahan kekerasan seksual. Contoh konkretnya, Pemerintah seharusnya mengambil langkah cepat dalam mengesahkan RUU PKS yang isinya mengatur jenis kekerasan seksual seperti perbudakan seksual, eksploitasi seksual, serta pemaksaan perkawinan.Selain itu, pemerintah juga perlu berperan lebih lagi dalam memperhatikan korban dari pelecehan seksual darisegi psikologis dan mental, sebab tidak mudah bagi para korban pelecehan seksual untuk menerima kenyataan yang terjadi dalam diri mereka dan tidak sedikit juga dari mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena mereka merasa malu dengan diri mereka sendiri. Di sisi ini, pemerintah juga perlu menggandeng psikolog atau para dokter spesialis kejiwaan untuk memulihkan psikis dan mental para korban.

gambar diambil dari komnasperempuan.go.id

Selain itu, pemerintah juga perlu bekerjasama dengan lembaga – lembaga social seperti Komnas HAM, Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan, dan KPAI untuk mengedukasi seluruh masyarakat tentang kekerasan seksual dengan tujuan masyarakat dapat lebih paham tentang bahayanya Kekerasan Seksual, dan tahu apa saja hal yang harus dilakukan jika menghadapi atau mengalami Kekerasan Seksual yang terjadi pada diri mereka atau di lingkungan mereka. Dengan edukasi ini pula, masyarakat diharapkan tidak membuat stigma negatif terhadap para korban pelecehan seksual tetapi menerima mereka dan mendukung mereka agar pisikis dan mental para korban bias pulih seperti sediakala.

Dengan begitu, pemerintah tidak hanya terfokus dalam pemberian sanksi terhadap para pelaku kekerasan seksual, tetapi juga mengutamakan hak perlindungan dan pemulihan bagi para korban kekerasan seksual. Dan dengan cara – cara ini pula, diharapkan angka kasus kekerasan seksual setiap tahunnya bias semakin berkurang atau bahkan tidak terjadi lagi sehingga kita semua sebagai warga negara Indonesia bisa menjalani hidup kita dengan aman dan damai serta jaminan keamanan warga Negara bagi kita dari pemerintah benar – benar terealisasikan dan dapat kita rasakan.

 

Referensi :

m.repbulika.co.id

https://m.merdeka.com

https://metro.tempo.com

 

Profil Penulis :

Dionisius Hotman Sinurat merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung Semester 3, yang saat ini menjadi Anggota Muda UKMF-PSBH FH UNILA 2020.

 

Tinggalkan Balasan